Tampilkan postingan dengan label biketouring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biketouring. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2019

Gowes Cantik di Sebatik 2

"Anak Muda Adalah Cabang Kegilaan"

Di tengah rutinitas dunia kerja yang tak lagi menantang, tidak ada salahnya menjawab tantangan anak muda bernama Lukman untuk mengelilingi sebatik kedua kalinya dalam waktu kurang dari 12 jam. Saya berpikir ini bisa dilakukan mengingat catatan waktu kami sebelumnya yang tidak terlalu buruk dan kemungkinan besar bisa ditingkatkan. Untuk memanaskan tantangan, Saya sengaja tidak meliburkan praktek sore agar ada motivasi ngebut di jalan hingga waktunya tepat bertemu dengan klien tersayang. Entah apa yang ada di pikiran anak muda ini, tugas kita-kita sebagai orang tua adalah membantu anak muda mencapai tujuannya, ini kenapa saya ikut.

Hiruk pikuk pemilihan umum sehari sebelumnya (17/04) tidak mempengaruhi perjalanan kami kali ini. Pulau Sebatik masih menjadi lokasi favorit kami melatih mental bersepeda. Berbeda dengan 2 tahun lalu di mana rute dibagi 2 hari sehingga kami menginap di Sei Pancang (http://senoajisketsa.blogspot.com/2017/04/gowes-cantik-di-sebatik-hari-1.html), kali ini kami merangkumnya dalam belasan jam saja mulai dari titik start hingga pulang ke rumah

Pulau Sebatik terletak di utara pulau Nunukan tempat kami tinggal. Jaraknya sekitar 6 kilometer menyebrangi selat. Kami pernah menjelajahi pulau ini dengan sepeda April 2017 lalu, start mulai dari pelabuhan Bambangan ke arah Selatan. Kali ini kami membalik rute start dari Bambangan lalu ke Utara menyusuri perbatasan Indonesia- Malaysia.

Saya bersama Lukman mencoba menyelesaikannya, mungkin ini yang pertama kali dilakukan dengan sepeda touring.

Karena prediksi perjalanannya sehari, persiapan tidak sebanyak 2 tahun lalu. Sepeda yang digunakan juga berbeda, karena targetnya kecepatan, sepeda besi ringan (CRMO_) dengan kelenturan baik seperti Suzuki tech1000 menjadi pilihan. Persiapan dilakukan mulai mengganti pedal dan ban yang memiliki rolling resistance rendah, menyiapkan peralatan seperlunya serta makanan. Tekanan darah diukur untuk melihat layak tidaknya kondisi tubuh untuk perjalanan.


Perjalanan dimulai pukul 06.38 start dari pelabuhan kayu Tunon Taka, Speed boat yang membawa kami hanya memerlukan waktu 15 menit untuk menyeberang, Sarapan dilakukan di jalan dengan bekal yang kami bawa. 



Ada hal yang menarik saat mengawali perjalanan. kami sama-sama menemukan bahwa sebetulnya sepeda kami tidak layak pakai. Bunyi berderik yang tadinya saya pikir berasal dari pedal ternyata berasal dari bottom bracket, sedangkan Lukman sendiri menemukan Rear Deraillure belakangnya sulit berpindah ke gir terbesar menyebabkan kesulitan saat menanjak.







daratan Pulau Nunukan dilihat dari Sebatik


Sebatik memiliki kontur geografis yang unik. Di etape pertama sisi utara pulau letak perbatasan Indonesia-Malaysia jalur sepanjang 29km dari Bambangan ini langsung disuguhi jalanan naik turun. tercatat di software pencatat jarak kami elevasi setinggi 1900an meter di atas permukaan laut. Ini sangat menguras tenaga. 





Jalanan yang dikabarkan putus telah diperbaiki



kecepatan maksimal sebelum puncak bukit keramat








11.20 kami tiba di Tugu Garuda Perkasa yang legendaris itu, Cuma satu di Indonesia. Untuk jarak 28 km ini kami menghabiskan waktu 4jam 45 menit hanya untuk sampai Sei Pancang. Setelah makan sejenak dan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dan Sholat dhuhur di Sei Taiwan. Sempat terpisah karena mesjid yang saya pikir sei Taiwan salah sebut menjadi Mesjid di jalan masuk Pantai Marina. Setelah melakukan regrup, rute sepanjang 20km membelah kebun-kebun sawit makin meningkatkan potensi dehidrasi. Setidaknya menghabiskan 3 botol air mineral besar hingga sampai di titik ini mulai dari Bambangan.



Suasana memasuki Kota Sebatik

Alexis KW2

Aji Kuning

jalan antara Ajikuning dengan Sei Taiwan


"Sebatik adalah area di mana manusia tidak butuh penis untuk pipis. 3 botol besar air mineral itu sukses hanya keluar lewat keringat"

perkebunan sawit di sisi timur pulau Sebatik





14.50 kami sampai di area Desa Setabu, Udara masih panas meski matahari mulai condong di balik pepohonan pinggir jalan yang tidak terlalu banyak.




16.30 kami tiba di Pelabuhan Mantikas. ide pulang lewat bambangan tampaknya kurang realistis mengingat jaraknya bisa memakan waktu 1 jam lagi dan kepastian mendapatkan speedboat di waktu senja kurang menjanjikan.


tiket di pelabuhan ini seharga Rp 20.000,- / orang, Sepeda tidak ditarik bayaran, tapi motor harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 10.000,-. Kapal kayu "Dompeng" itu bermesin diesel 1 silinder, dinamai dompeng karena rata2 di mesinnya tertulis merek mesin : "dong Feng".

Karena sore hari kami baru menaiki perahu, ombak demikian tinggi, tidak banyak pilihan tempat duduk yang nyaman di situasi begini. Duduk paling belakang mingkin tidak terpengaruh guncangan ombak, tapi puas menghirup asap diesel dan asap rokok penumpang yang umumnya merokok di luar. Di dalam bagaimanapun terindung panas, meski bau asap tidak terlalu menyengat, ombak yang menghantam lambung depan lebih terasa. well it's a SH*T transportation and we had no choice.



18.20 Selalu ada ruang buat nasi padang



Keliling sebatik bukan perjalanan yang sempurna, namun tingkat kesulitan medan dan pengaturan waktu selama di perjalanan sambil mengatur tenaga adalah seni perjalanan yang sulit dilakukan tanpa kerjasama yang baik. Belum ada cara terbaik merayakan kesehatan dengan cara mengujinya baik secara mental maupun fisik selain dengan touring jarak jauh. 

Semoga nikmat sehat dan sempat kembali menghampiri untuk melakukan perjalanan berikutnya.





Selasa, 04 April 2017

Gowes Cantik di Sebatik (Hari 2)

Setelah tidur malam yang cukup, kami sholat subuh dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Mas Mordan awalnya ingin langsung pulang karena merasa kelelahan. Alhamdulillah beliau merasa bugar paginya dan siap melanjutkan perjalanan, yup terlalu indah dilewatkan. Sisa perjalanan 29km dari Sei Pancang ke Bambangan membelah pulau sebatik menyusuri perbatasan yang memisahkan antara wilayah Indonesia dan Malaysia . Sepanjang jalan menurut keterangan penduduk tidak ada warung makan sehingga kami membekali diri dengan air yang cukup (2.5 liter/orang) dan beberapa potong Roti. Perjalanan dimulai pukul 06.30. Estimasi durasi perjalanan sekitar 6jam jika tidak ada halangan.

Meski pendek, perjalanan hari ke dua makin menantang, perbukitan yang akan dilalui makin terjal setelah jembatan Lourdes. 3km dari Sei Pancang kami menyempatkan diri berfoto di Tugu NKRI Harga Mati yang diresmikan ibu wakil bupati saat itu ibu Hj. Asmah Gani pada 2012. Perjalanan menuju Bambangan meski sama panas namun tidak segersang rute sebelumnya (Gowes Cantik diSebatik (Hari 1))







Perjalanan jauh sering terasa nyaman ketika kita berinteraksi dengan penduduk lokal, melakukan sapaan kecil di sepanjang jalan. Meski tampak seram masyarakat Sebatik pada dasarnya ramah. 


Toko-toko kecil masih bertebaran sebelum jembatan Lourdes (17km dari Sei Pancang). Berbelanja di sepanjang toko-toko di sebatik juga tergolong terjangkau, air mineral produk nasional ukuran 1500ml harganya 7000 rupiah, sedangkan dari Malaysia ukuran yang sama harganya 5000 rupiah (kenapa pula saya bawa botol kosong ini sampai ke rumah? :p ). Mereka juga menggunakan rupiah jauh lebih banyak ketimbang ringgit. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dalam hal kembalian uang ada toko yang demikian baik tidak menggunakan permen seperti toko-toko di pulau Nunukan, mereka menggunakan uang sen Malaysia jika tidak tersedia koin Indonesia.



 


 Menurut hemat saya Tour sebatik yang terberat adalah hari ke dua, dengan elevasi cukup terjal dan banyak sudut jalanan yang membahayakan, kedua anak muda tampak makin menikmati seperti tak tampak kelelahan di wajah mereka, bahkan mas Mordan yang awalnya berniat membatalkan ikut hari ke dua berkata rute ini lebih ringan dari sebelumnya. Sedangkan mas Lukman beberapa kali "menghilang" di tanjakan mendahului yang lain.



 




 


 Banyak dari rute terpaksa dilalui dengan cara dituntun. Tidak selalu karena terjal kadang karena bosan mengayuh :) 

 Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Di kilometer ke 17 perjalanan hari ke dua, ban belakang kempis. Rim tape terkelupas dan bergeser sehingga dinding Rim justru melukai ban dalam. Ada 3 titik lubang yang harus ditambal dengan jarak berdekatan. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya kami menggunakan "cara kuno".


Mendengarkan cerita dan nasehat orang tua seringkali bisa menyelamatkan kita dari situasi kritis. Saat berumur 8 tahun, Bapak pernah cerita saking susahnya dulu mendapatkan ban dalam, kadang ban sepeda diisi rumput agar bisa dipakai. 30 tahun kemudian di tengah hutan, 10 Km menjelang pulang, ban bocor di 3 titik di area rim dan gagal ditambal. akhirnya terpaksa diisi rumput sebelum jalan. Rute yang semestinya bisa dinikmati dengan kecepatan tinggi (rekor kecepatan di sisi timur sebatik 68.7km/jam) hanya bisa dilalui 7km/jam maksimal


 

                                   

   
                                   

14.55 sampai di Bukit Keramat kami berisirahat sebentar. Petugasnya cukup ramah menawari kami secangkir kopi. Kami tidak sempat menikmatinya karena diburu sore. Sistem jaganya Roling per 270 hari, Pasti sulit di daerah sesepi itu.  Setelah berfoto kami melanjutkan sisa perjalanan.

                           

 





Akhirnya rute terselesaikan, total gowes 108km selama 2 hari. Musibah ban kempes tadi membawa kami ke 12 km sisa rute agak lambat namun teduh dan sedikit gerimis. Perjalanan makin terasa mudah setelah Sholat Ashar di Bambangan. Banyak hal yang kami pelajari, kebersamaan, menggali potensi kita sesungguhnya, kesabaran, hingga kesempatan berbagi. 
Rute Sebatik ini sangat potensial. Andai, setiap orang yang memiliki rumah/ tanah di sebatik menanam pohon besar di tepi jalan dan pemerintah membenahi infrastruktur, Sebatik mungkin bisa jadi tujuan wisata sepeda terbaik di Utara Kalimantan. Rute sepanjang 90an km dengan kontur tanjakan dan turunan yang memanjakan otot dan mata pesepeda cukup potensial bagi event sekelas tour de France....

.

.