Rabu, 02 Juni 2010

Pemasaran Rumah Sakit- Sebuah Pengantar bagi RS Nunukan part1

Inti dari Pemasaran adalah menjual produk, dalam hal Rumah Sakit, produk yang ditawarkan berbeda dengan usaha lainnya karena di samping barang, produk utamanya adalah jasa. 

Rumah sakit (pemerintah) saat ini semakin bergeser paradigmanya dari fungsi sosial menjadi fungsi bisnis atau setidaknya semi bisnis. Hal ini dapat dimaklumi mengingat semakin besar dimensi Rumah Sakit, semakin banyak pula item yang harus dibiayai. Tentu hal ini juga mengingat keterbatasan birokrasi konvensional (sistem tender awal tahun anggaran), keterbatasan pemerintah, dan yang paling penting adalah tuntutan konsumen (kami bahasakan bukan pasien) akan pelayanan prima, bukan pelayanan apa adanya sebagaimana ciri umum Rumah Sakit Pemerintah tempo doeloe. 

Dalam memasarkan produk Rumah sakit penting untuk menampilkan merek yang kuat ("Brand Image"). Ini adalah salah satu kunci pemasaran yang baik. "Brand Image" kuat ini tentu tidak gratis, tidak pula diperoleh dari promosi besar-besaran yang mahal, bahkan pada beberapa produk sedikit menipu berbeda apa yang dijanjikan dengan kenyataannya demi meraup sebanyak-banyaknya konsumen. "Brand Image" suatu produk layanan jasa utamanya rumah sakit harus dibangun merujuk pada kepuasan pasien dan keluarganya terkait pelayanan rumah sakit. Ini bukan hal yang mudah, perlu ketekunan dan kerjasama yang baik antar personel rumah sakit dalam membangun kualitas layanan yang baik dan bersifat konstan bahkan jika mungkin meningkat tiap tahunnya. 

Pelayanan prima tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia yang baik. Kecakapan komunikasi, empati, dan keterampilan prima setiap lapisan anggota rumh sakit. Mengapa setiap anggota Rumah sakit? bukannya ujung tombak pelayanan adalah para pekerja yang bersentuhan langsung dengan pasien saja? Pertanyaan yang bagus. Anggota rumah sakit pada dasarnya adalah satu kesatuan dengan rumah sakit. Reputasi apapun yang mereka bangun baik positif maupun negatif selalu dikaitkan dengan institusi secara emosional karena mereka identik dengan itu. Saat tidak berada di Rumah sakit, karyawan rumah sakit di berbagai lini ini seolah menjadi "agen pemasaran" baik disadari maupun tidak. Hal negatif maupun positif akan mempangaruhi kinerja Rumah sakit secara tidak langsung, sehingga diperlukan kemampuan komunikasi yang baik dari tiap personel ini. 
Kemampuan verbal yang baik harus ditunjang oleh kualitas keterampilan prima baik managerial maupun fungsional. Apa yang harus dilakukan agar pondasi utama produk rumah sakit ini terbangun baik? Dimulai dari proses rekrutment, maintenance skil dan kemampuan komunikasi, kemudian evaluasi, hingga pada akhirnya proses reward and punishment yang transparan. semoga bisa menjadi bahan pertimbangan_