Kamis, 28 Januari 2010

"Buy the Cow, not The rope"


This expression maybe seems to be unfamiliar for some people, but for about twenty five million of Indonesian people this  expression has been painting their heart, very important. One simple expression that frequently forgotten, accidentally i suppose. Ok, it doesn't matter who are  they, more important is how this expreesion is understood by the rest of Indonesian People. Since for me it's very important in order to form better Indonesia.


Precisely a few week ago, many change of top government leader in Nunukan affected a few discrepancy, disappointment, and and of course policy changing. It was affect me too in sort of way, a big deal one! Thinking that our hard work was appreciated unvalueably. this unfairness (not mentioned) was killing me for weeks. What a situation...


One day one wise guy said to me that in this world to live we need to know the reason is (later the reasons are). then come this expression :
"Buy the Cow, not The rope"


the purpose of all living/unliving, seen or unseen things in the world is to noble Alloh's name. It seems that I'm talking about how moslem should do to live his/her life every day until dead, no i'm not it's for all mankind. 
Anyway, the valueable advice was "not heard", in from left ear, out from right:) "what a ridiculous advice!" right advice in the wrong place and time (in my heart i was say: your time sucks, sir!)

satu tempat di sekitar desa sanafi Gebe (K800i cybershot panoramic-auto mode)



a week has passed and of course i nearly forget that valueable advice until one of my ENT collegue said something inspiring one last night: " be downearthed! ". Bang!!! She's totally correct! I'm I chasing something important all along this year, well of course they're important but is it important enough? I dont think so. In fact, if I think carefully they're not at all..since i'm not put my efforts on the right purpose(s). then what happened? the efforts are bias. 

Now i know my fault. I hope lesser mistakes in the future. with the purpose our action will be well directed, well measured, and no matter what the result is (done well or destroyed) You will not dissapoint enough to kill yourself



Home, January 28, 2010

jalan ke arah tambang nikel gebe (k800i cybershot panoramic-night mode)




Minggu, 24 Januari 2010

Nunukan (part1)

September 2008 kami menginjak Nunukan.. minim tempat rekreasi (sampai saat ini), wisata alamnya juga banyak yang hancur karena booming penjarahan kayu yang dilegalkan Inhutani antara 80an-90an. Banyak juga sisa hutan yang masih lebat, sisa hutan itu semoga tidak rusak, bahkan diharapkan bertambah areanya. Pemerintah daerah setempat telah banyak berperan dalam mencegah kerusakan  , mereduksi kerusakan hutan dan meremajakannya. Usaha itu bukannya tanpa kendala. Hutan yang telah gundul ternyata hanya memiliki lapisan humus tipis yang segera terkikis air hujan. (lihat gambar di atas) lapisan tanah dibawahnya bukannya tidak subur, menurut sumber yang dapat dipercaya, lapisan tanah merah hutan kalimantan yang sulit ditumbuhi tanaman ini banyak mengandung unsur hara namun memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Petani biasanya mengakalinya dengan membakar semak untuk menurunkan tingkat keasaman tanah ini. Alternatif lain adalah pemupukan yang tentu mahal biayanya. Hal ini menjelaskan mengapa pembakaran lahan yang asapnya kita ekspor ke negara tetangga  sulit dihentikan.. 


September 2008 we came to Nunukan.. very few recreational site (until recently), there’ s many forest destroyed caused by legally illegal logging during Inhutani period on 80’s-90’s. The rest of the forest seems still well preserve _even though sometimes we hear the roaring sounds of chainsaw machine among the silence of the forest_ and hopefully the preserved area is increase. Local government has been playing important role in stopping deforestation, reduct the destruction, and preserve it. All of those efforts are not smooth in action, The destroyed forest actually has only thin layer of “humus” (a called for humid soil that makes plants grow well) which is soon washed away by rain. (see picture above) The “red soil” is actually humid, according to trustable sources, this hardly plant-growth-on soil has rich trace elements that plants need but they locked by a high level of acid pH. Farmers usually trick this situation by burn all bushes on farming area to decrease the level of soil acid instead of highly-expensive using of chemical fertilizer. This should explain why every year we always have smoke problem with our neighbour such as Malaysia and Singapore , It’s hard to stop such thing..







2. Binusan Village..






3. Outer ring-road of Nunukan





4. Pattimura street (was jl. TVRI)





5. Jl. Pattimura




6. downtown at night





7. Nunukan Kota public health center (was Nunukan Hospital)


 Nunukan sedang membangun, sejak pemekaran dari kabupaten Bulungan tahun 1999 kabupaten ini maju pesat. Dalam waktu 10 tahun saja cukup banyak infrastruktur yang dibangun antara lain: Bangunan Rumah Sakit Umum, gedung perkantoran, peremajaan puskesmas pembantu lengkap dengan fasilitasnya, sarana jalan raya, pelabuhan baru, peremajaan pasar, gedung sekolah dan sebagainya yang akan ditampilkan di posting-posting berikutnya secara acak agar tidak membosankan:)


Nunukan is a growing city, since we split from Bulungan in 1999, this city is grow rapidly. Only in 10 yeArs we're able to build many government office, renewal of public health centers including the advance facility, new wide roads, harbour, marketplace, school, etc more to come at next postings randomly

about Photos:
all the photos was taken with Sony cybershot H7. Every digtal imaging is light-dependent. the more light intensity the sharper the picture. pict no.2 was taken at iso 80, shutter speed 1/400, f4.5, as you can see there's no noise. Every detail was captured perfectly..Pict no. 6 and 7 waS taken without tripod. bad example but to practice your ability in jurnalism photography which is demand sudden action, night shooting without tripod skill is sometimes needed:) (shutter speed 3'',  ISO 800, f2.7 and steady hand of course)

(from many local government sources)





Jumat, 22 Januari 2010

Binatang Gebe

Hehehe.. Gebe lagi.. percayalah postingan yang lewat belum sepersepuluhnya dari hasil jepretan saya melalui kamera Sony DSC-H7 dan Sony Ericsson K800i yang keduanya sama-sama memiliki label "cybershot" keduanya jadi mata ke-dua dan ke-tiga saya melihat dunia lebih baik. langsung saja..



1. jangan tanya burung apa ini, yang jelas sangat jarang muncul..




2. kelelawar ini sempat bikin mati lampu dari malam sampai pagi, bentangan sayapnya 1 meter, besar sekali..

3. sebelum berangkat pagi tiba-tiba burung pemakan buah ini menabrak kaca jendela tetangga


 4. apa di belakang itu? Lapangan Golf di Gebe! anda tidak sedang bermimpi, pada pagi hari
di Hole ke-5 sapi milik teman dari Tana Toraja ini merumput di sini.





5. tidak jauh dari kumpulan sapi di atas, makhluk cantik ini di atasku..



6. lagi-lagi saya tidak tahu namanya, tapi salah satu burung khas Gebe ini selalu menggerakkan ekornya saat berkicau, saya menyebutnya "the tuxedo"

 
7. Barisan merpati di Pasar Kapaleo..

Sementara itu dulu, sekarang pukul 22.36 WITA:).. semua gambar di atas di ambil dengan kamera Sony H7 tanpa di-retouch, bukan kamera terbaik di dunia namun buat pemula sangat akomodatif. Sebisa mungkin gunakan fitur manualnya agar dasar penggunaan setelan bukaan diafragma, shutter speed, hingga iso dapat lebih dikenali.
Pada prinsipnya dalam fotografi sangat dianjurkan menggunakan iso terendah (80,100,200). Hal ini sulit dilakukan pada mode auto karena iso menyesuaikan dengan intensitas cahaya ruangan. Dalam ruangan remang tanpa penggunaan Blitz mode Auto mengkompensasinya dengan menaikkan iso, namun perhatikan hasilnya, banyak muncul noise/grain pada gambar, kesannya pecah-pecah. sehingga dianjurkan penggunaan blitz untuk kondisi pencahayaan remang. (perhatikan gambar No.3 banyak bintik-bintik putih hasil kompensasi iso)
Hal lain yang perlu diingat dalam penggunaan kamera digital adalah sangat bergantung cahaya dan kekuatan baterai. penggunaan blitz yang baik pada kondisi cahaya remang dapat mengatasi hal ini  dengan baik. Ada dua mode penggunaan blitz yaitu yang biasa dan reduksi "mata merah". pada Sony H7 fasilitas reduksi mata merah ini cukup menguras baterai setelah 100 shot. Untuk itu dapat diakali dengan menggunakan mode blitz biasa lalu mengarahkan objek foto agar tidak melihat kamera. Cara ini cukup ampuh untuk menghindari pantulan blitz melalui dasar mata(retina). mengenai kekuatan baterai, berhubung kamera ini menggunakan autofocus, akurasi fokus dipengaruhi kekuatan baterai. bila baterai lemah untuk pengambilan gambar cepat fokusnya kadang kabur..
semoga bermanfaat..(diambil dari berbagai sumber utamanya buku digital Photography)


Kamis, 21 Januari 2010

Fakta Gebe/ the facts of Gebe




Pulau Gebe adalah suatu pulau  terletak di bagian paling timur Kepulauan Halmahera yang  berbatasan langsung  dengan Propinsi Papua. Dicek di Google earth dapat koordinat ini: 0o07’27.63’’S   129o30’30.56’’E yang menunjukkan letaknya yang dekat ekuator. Gampangannya lihat gambar ini :
Gebe is a group of islands placed at east side of Halmahera archipelago directly bordered with west Papua Province. The coordinate we found at google earth are : 0o07’27.63’’S   129o30’30.56’’E which are show that this island is hot……… equator hot, you can see down here about where the island is :
 

Gebe termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Tengah propinsi Maluku Utara. Pada tahun 2001 pulau ini dibentuk secara definitif sebagai ibukota kecamatan yakni kecamatan Gebe, mengingat populasinya meledak sejak booming Nikel pad masa itu . Secara administratif Pulau Gebe 45 Km dan lebarnya bervariasi antara 1 km sampai 7 km atau diambil dari rata – rata 4 km , sedangkan luasnya 150 km2. Penduduknya saai ini berjumlah sekitar 5.580 orang yang mendiami empat desa, yaitu Desa Kapaleo sebagai Ibu Kota Kecamatan, Desa Kacepi, Desa Sanafi (Mamin), dan Desa Umera serta satu desa lagi yang masih dalam wilayah kecamatan Pulau Gebe tapi tidak berada di daratan Pulau Gebe, tapi berada di Pulau Yoi yaitu Desa Umyal. Penduduk Gebe utamanya desa Kapaleo didiami oleh berbagai suku antara lain Jawa, Bugis, Cina, Papua, dan tentu saja orang Maluku sendiri. 
Gebe district is in area of central Halmahera, North Molluca province. In 2001 this archipelago was definitively formed as Gebe district which Gebe Island as the district capital. This was happen because of highly increased population since nickel booming at that time. Administratively Gebe is 45 km long and 1-7km wide. All total area is 150km2 . Nowdays the population is only about 5.580 people live in 5 villages Desa Kapaleo sebagai Ibu Kota Kecamatan, Desa Kacepi, Desa Sanafi (Mamin), and Desa Umera on Gebe Island and one village on yoi Island which is called Desa Umyal. People of Gebe Island especially those are live in Desa Kapaleo is come from many tribes Jawa, Bugis, Cina, Papua, and of course people of Molluca themself.
Populasi yang sebagian diisi para pendatang inilah yang kemungkinan membuat Gebe bebas konflik pada masa kerusuhan beberapa waktu lalu.. atau memang karakter penduduk  asli Maluku yang cinta damai, terbukti ternyata sangat banyak wilayah Maluku yang tenang saat kerusuhan, ini yang membuat banyak orang non- Maluku betah tinggal di Maluku. Termasuk saya, maaf terutama saya:) 

Population which is partly filled by people from out of Gebe that possibly makes Gebe free of conflict many times erlier, or. .is it the peace lover character of native molluca tribes? Because it’s proven that many area of Molluca (most area) free of conflict during chaos in 1999. this makes a lot of non-Molluca people love to live there, including me, excuse me _ especially me:)
Tentu bukan hanya penduduknya yang mambuat betah . Lebih banyak di Posting selanjutnya
Of course, not only the people which is nice.. More to come at next postings.




Rabu, 20 Januari 2010

orang gebe lagi


Orang-orang Gebe



para penggila musik cadas


  
walau terpencil kami tahu bentuk bola golf



   
Orang IT bekerja


 
ibu pencari sayuran dari hutan Gebe


 

Gaple (om mansur, pak Rujito, Ipul, Ape, Om Man lagi, om tang, om abe (alm.))


 






menjelan Idul Fitri 1427H di pasar Kapaleo





  mas Cahyo (Jkt)





 Jam Poliklinik




Gebe di Mataku

Sebuah pulau terpencil di timur kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara, tempat tugas pertama kali sebagai tenaga medis sebuah perusahaan nikel yang juga melayani masyarakat setempat. Berikut adalah sebagian kecil gambar-gambar selama bertugas di sana.. dari Google Earth Ke pulau ini bukan perkara sulit, saat terakhir meninggalkan gebe September 2008 ada 2 penerbangan Merpati dengan pesawat casa-212 Ternate-Gebe PP yaitu hari Kamis dan Sabtu.
Penerbangan selama kurang lebih 55 menit dalam pesawat berpenumpang 22 orang termasuk pilot, cukup menyenangkan bagi orang-orang yang menyukai petualangan terutama saat mendung. Harga tiketnya cukup bersahabat antara Rp 450.000- 600.000., entah sekarang berapa. casa 212 milik Merpati.
Alternatif berikutnya dengan kapal-kapal perintis, hanya saja Rutenya kurang hapal. tercatat ada Kie raha 1, 2, dan KM sangiang yang cukup nyaman.

ada lagi alat transportasi menuju Gebe asal kuat mendayung :)