Kamis, 30 September 2010

sepanjang perjalanan Mudik ke Makassar



Mudik lebaran sejak dulu selalu melebihkan kesan mendalam (bukan menyisakan) buat saya. Tradisi ini dimulai sejak saya masih duduk di sekolah dasar yang ketika itu menggunakan trasnportasi darat berupa bus atau kereta api di era 80an.. kemudian trend mudik makin padat menggunakan kendaraan umum, ayah saya berinisiatif menggunakan kendaraan dinasnya Daihatsu taft "kebo" yang cukup tangguh dibawa dari Jakarta-Bojonegoro. Seiring kepindahan kami ke Bali dan Sulawesi, kebiasaan mudik ini berkurang dan jika terselenggara hanya transportasi Udara saja jawabannya, sehingga pengalaman mudik menggunakan kapal Pelni tidak ada. 
Oleh karena itu pada mudik kali ini kami memberanikan diri menggunakan moda transportasi laut, berikut sketsa yang sempat dibuat:

ruangan kelas di KM bukit Siguntang
sebuah tangga menuju dek 6
pemandangan dari dek 8
pemandangan dari jendela kelas
pemandangan dari jendela kelas


wahyu dan teman-temannya bermain dalam kabin

 sketsa saat di Makassar:

penjara Pangeran Diponegoro


bpk Zaenal Beta (salah satu senior pendiri art Galery)


pensketsa dan suasana fort Rotterdam



stand pelukis potret di Mall Panakukkang

rumah tujuan mudik:)

monumen mandala Makassar
di dalam kantin Graha Pena Makassar
di Pesawat dalam perjalanan menuju Tarakan








Jumat, 10 September 2010

sambil menunggu Sketsa terkini

Kami Sekeluarga mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

(seno-eiyta-wahyu-putra)


Minggu, 05 September 2010

(bisa) mensketsa, (harus ber-)bakatkah? (sebuah catatan untuk menyemangati pemula)

sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan pada para sketcher tentang dari mana dia dapatkan semua kemampuan mensketsa-objek-langsung itu:)
Tentu tidaklah berlebihan bila dikatakan kemampuan sketsa seseorang ditentukan bakatnya, dalam hal ini dipengaruhi genetik, yang artinya kalau bapak bisa nggambar anaknya kemungkinan besar bisa. Namun sangat berlebihan jika dikatakan bahwa hak mensketsa adalah milik orang berbakat yang tidak dapat dipelajari sama sekali. Kebanyakan dari kaum kami (percayalah) sangat berjuang keras melatih dari yg tidak ada menjadi kemampuan yg cukup baik. beberapa (utamanya saya) berlatih cukup lama, mulai dari sekedar gambar pemandangan klasik (gunung, rumah, matahari, rumput2) pada masa Sekolah Dasar; gambar mobil (karena tertarik dengan dunia Ayah yg memulai karirnya di direktorat peralatan) pada masa SMP, sempat vakum pada masa SMA; masuk teknik Arsitektur setahun (di sini saya mendapatkan pendidikan formal teknik mensketsa) di 1996 sebelum masuk fak. kedokteran, menemukan buku sketsa di tahun 2001, lalu aktif mensketsa antara 2001-2003; kemudian vakum hingga pertengahan 2010 sampai menemukan komunitas sketcher di facebook yang tergabung dalam Indonesia's Sketcher..
Bisa dilihat, ini periode berlatih yg cukup panjang untuk orang berbakat? hahaha, orang berbakat tidak selama itu untuk menguasai satu keahlian.
Dunia sketsa dunia yang unik_kalau masih ada yang berjuang agar gambarnya mirip aslinya saya cuma bisa bilang anda membuang-buang waktu saja. Justru keindahan sketsa ada pada "ketidakmiripannya", bergantung pada kemampuan sketcher menangkap elemen penting yang mengesankan objek tersebut, tidak mesti 100%. Silahkan dicermati berbagai karya sketcher dunia di Urban Sketcher (http://www.urbansketchers.com/) kebanyakan dari mereka tidak perduli akan detail..mencari bentuk dasar utama dari suatu objek lalu diakhiri dengan detail atau tidak. Detail objek tidaklah penting meski hal ini akan memperindah objek. namun bila kita fokus pada detail dengan melupakan bentuk dasar maka yang terjadi audiens anda akan kesulitan menangkap kesan yang anda maksud. Contoh yg paling menyenangkan untuk mengesampingkan detail 100% adalah karya-karya francis d.k. ching (silahkan di-search di FB).
Selamat mencoba_

regards
a picture sketched by Francis D.K. Ching