Kamis, 06 Juli 2017

Sampai Jumpa Lagi, Monyet! (Sukamantri, 5-6 juli)

Entah berapa kali saya menginjak camping ground Sukamantri, alasan mengunjunginya berulang-ulang dengan kondisi cuaca yang sangat buruk pun menjadi pertanyaan penting yang kalau dijadikan tesis bisa membuat tidak lulus, apalagi sebagian besar saya melakukan perjalanan ke sana sendirian menembus hutan.
Sukamantri berada di kaki gunung halimun salak, sekitat 14 km dari terminal bus Baranangsiang Bogor, lalu ke arah Ciapus via Kebun Raya Bogor, lalu anda bisa bertanya dari sana .
Berbeda dengan camping sebelumnya, yang selalu kemalaman saat tiba karena menggunakan sepeda dari ujung aspal hingga tujuan sepanjang 49km, kali ini saya memanfaatkan jasa Bus Umum. Karena pertimbangan safety. Terakhir saya ke tempat ini sampai gapura "kujang raider" sekitar magrib, bertemu babi lumayan besar disertai hujan deras. Jalan berbatu yang sejatinya saat kering saja sulit dilewati sepeda makin sulit dilewati. Menjelang petang area ini memang sering hujan, entah hanya gerimis atau satu paket dengan badai dan petirnya.

Dari rumah pukul 08.30 bersepeda 10km ke terminal bus kampung Rambutan, banyak bus menuju Bogor dengan ongkos hanya Rp50.000 berikut sepedanya. Perjalanan ke baranangsiang sekitar 1jam 52 menit, lumayan waktu yang digunakan untuk tidur. Sempatkan sarapan sebelum berangkat, pilihan saya tongseng kambing dengan sedikit nasi (sudah 6 bulanan saya merubah diet saya menjadi ketogenik dengan menghindari gula dan karbohidrat berlebih). Pukul 11.02 tiba di Bogor.

Membutuhkan waktu 15 menit untuk menata ulang panniernya, dan butuh sedikit perjuangan melawan sisa kantuk. Efek "Bus-lag" selanjutnya bisa ditebak, gowes jadi lebih berat dari biasanya, belum lagi masuk tanjakan ciapus, matahari demikian terik. Disarankan menggunakan krim anti uv, kacamata gelap, dan lengan panjang (ketiganya tidak saya pakai :p) dan sepatu... (tidak saya pakai juga). Pokoknya harus pakailah...
Sepanjang perjalanan banyak mesjid yang airnya vukup lancar bagi muslim yang ingin sholat. Jadi jangan kuatir ketinggalan sholatnya.


Hingga tiba gapura Kujang raider sekitar pukul 16.00, dari situ sepeda tidak bisa dikendarai (sebetulnya 100m sebelumnya sudah harus dituntun), jadi harus dituntun sepanjang 1.5km dengan tanjakan terjal, berbatu dan berlumut. Di sini dituntut kehati-hatian dan terasa guna sepatu. Jika memungkinkan manajemen barang bawaan harus ditata agar tidak terlalu berat.
Jika masuk kujang raider sudah dalam kondisi gelap butuh cahaya senter untuk membantu penerangan. Ada 13 tikungan ke kanan maupun ke kiri..

Saat tiba di gerbang perkemahan, siapkan uang Rp.20.000,- /orang (sudah termasuk parkir sepeda dan jasa kebersihan). Tak seberapa jauh dari pos jaga warung makan menyambut ceria dengan menu standar bagi yang kelaparan instan. Pilihan saya: mie instan dengan potongan cabe rawit dan telur (perhatian! Tidak untuk ditiru!) .

Setelah menghabiskan makan malam, tepat 17.45 tenda didirikan hanya dalam waktu 15 menitan (mungkin lebih).


Pagi di sukamantri cukup menyenangkan, jika anda mencoba masak di depan tenda, akan didatangi "para tamu" yang sejatinya adalah penduduk lokal sukamantri: yup, sekumpulan kera-kera sekelurahan, perlu diingat agar jangan sekalipun meninggalkan makanan di luar tenda apalagi sengaja memberi mereka makan. Belakangan kera-kera ini demikian agresif mencuri makanan pengunjung :( ini tidak menyenangkan.



Hmm, satu hal lagi. Bumi perkemahan Sukamantri adalah lokasi perkemahan yang cukup populer, pengunjungnya saat liburan sangat banyak. Medannya cukup menantang bagi hiker dan pesepeda pemula, bahkan sering komunitas mobil offroad dan SUV ringan mengadakan gathering di lokasi ini. Tadinya saya berpikir akan sendirian di lokasi ini, ternyata tidak, liburan anak sekolah masih berlangsung alhasil sepanjang malam kita akan menikmati nyanyian mereka. Lumayan suaranya bagus sekali, tapi  akan jauh lebih bagus kalau tidak usah menyanyi.
Sampai bertemu lagi, monyet!
.
.
.
.
Eh, maksudnya pembaca :p