Wednesday, November 10, 2010

bias media mbah Marijan (maaf ya mbah)




saya mendahului tulisan ini dengan Innalillahi wainna illahi roji'un.

Belakangan santer terdengar dan terlihat (melalui media) bencana alam dan buatan di mana-mana di beberapa bagian di Indonesia. Indonesia bagian barat diwakili tsunami Mentawai dan Merapi, Indonesia tengah diwakili Tarakan kerusuhan antar-etnis, dan di bagian timur diwakili Wasior yang hingga hari ini disangkal pemerintah bukan akibat pembalakan liar (apa yg mereka tutupi kali ini setelah century?)..
Berita-berita itu tentu saja diikuti komentar artis, anggota dewan (yang berkomentar miring soal kesalahan warga mentawai karena tinggal di pulau itu_ini gila), hingga beberapa cerita mistis dibalik bencana untuk menaikkan oplah/rating, serta sedikit fakta dari media.

Sebenarnya bukan urusan saya di luar rasa empati mendalam didasari pengalaman menangani pasien di daerah minus. Namun..
Beberapa saat yang lalu saya membaca tulisan teman yang mengkaitkan banyak bencana di Indonesia dengan angka 26. diakui memang banyak kejadian bencana di tanggal 26 termasuk di seputaran tanggal 26 termasuk datanya untuk seluruh dunia ckckck (jangan-jangan untuk tanggal lain belum dicek:).  Lalu seputar kematian mbah marijan yg oleh media dianggap ksatria, meninggal dengan cara yang "baik" menurut Islam, yang menurut sebagian kami muslim yang hidup musrik (membuat sesajenan untuk berhala) dan mati bunuh diri (tidak mengindahkan bahaya yang jelas di depannya) akhirnya bukan di surga, namun oleh media ini dibalik, sikap "heroik" dan "posisi mati" yang "istimewa" ini dianggap sebagai tanda masuk surga. Ini berbahaya karena bisa saja memicu sikap "heroik" pemuda Indonesia dengan cara yang tidak semestinya. Semoga tidak ada agenda lain/ Grand design untuk menghancurkan NKRI dari dalam, jika tidak hal ini harus segera dikoreksi demi Indonesia yang lebih baik_
Singkatnya, adalah sah-sah saja menilai bencana ini dari sudut pandang mistis, kematian yang bermakna dan lain sebagainya namun perlu diluruskan konteksnya agar tidak salah interpretasi dari kami kebanyakan orang awam yang siap menaikkan rating media:)_
rgds

(untuk saya, keluarga, semua teman terbaik saya , para sketcher, dan tentu saja Indonesia tercinta_)

juga diterbitkan di: 
http://www.facebook.com/note.php?note_id=454380434708

2 comments:

putihtua said...

Setuju dengan pendapatnya. Dan yang jelas, sebagai negara dan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, sudah sepantasnya untuk intropeksi diri masing-masing dan memperbaiki kesalahan yang sudah dibuat.

senoaji said...

terima kasih, semog ini menjadi bahan pengingat bagi kita semua_